Hari 21 — Tentang Menulis

Petrick
4 min readDec 21, 2021
Menulis (unsplash.com)

Selamat datang di hari ke-21 #AdventCalendar. Hmm, gua bingung mau mulai dari mana. Tapi kayaknya kegiatan ngalor ngidul dengan keyboard ini perlu dilanjutkan. Tanggung juga kan kalau berhenti padahal udah dekat tanggal 24.

Gua secara natur bukan orang yang percaya diri. Selain itu, gua juga bukan orang yang nyaman untuk berinteraksi dengan masyarakat. Gua selalu merasa canggung ketika disuruh berbicara di depan umum. Bahkan ketika umur gua sudah hampir seperempat abad.

Dulu, pas masih sekolah, gua ingat kalau sepasang dengkul yang gua miliki selalu bergetar ketika harus maju ke depan kelas. Apalagi ketika pelajaran Bahasa Indonesia, di mana kita nggak asing dengan membaca cerpen, puisi, atau bahkan monolog. Oh, ngomong-ngomong baca puisi, gua pernah mendapat nilai 0 saat kelas 3 SD karena saking nggak maunya maju ke depan untuk tampil. Bahkan gua saat itu (entah kenapa) sampai menangis karena nggak mau maju ke depan.

Ketidakpercayaan diri ini masih berlanjut hingga kuliah. Kala itu, gua dikelilingi teman-teman yang sangat jago dalam dunia seni. Ada yang jago main gitar, ahli menggebuk drum, pandai bernyanyi, bahkan sangat piawai dalam berakting. Sedangkan gua? Nggak tau deh bakatnya apa.

Gua selalu merasa minder ketika membandingkan diri dengan mereka. Perasaan inferior itu terus muncul karena ya … gua selalu bertemu dengan orang-orang tersebut setiap hari. Bahkan gua pun pernah seperti “mendebat” Tuhan tentang keadaan ini. Gua merasa Dia nggak adil karena enggan memberikan gua bakat dan kemampuan yang sama dengan mereka.

Hingga di suatu waktu gua bertemu dengan salah satu ayat di Alkitab. Sejujurnya gua lupa tepatnya yang mana, tapi kayaknya sih yang ini ya:

Roma 9:20–21 (TB)

Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: Mengapakah engkau membentuk aku demikian?”

Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?

Kalau nggak salah gua dapat ayat itu dari buku The Purpose Driven Life karya Rick Warren. Gua udah membaca buku itu dua kali (keduanya bersama rekan), dan gua selalu diingatkan bahwa gua — yang pemalu, nggak pede, dan selalu merasa inferior ini — pun diciptakan untuk menggenapi tujuan-Nya di dunia.

Apakah yang harus gua lakukan untuk menggenapi tujuan tersebut? Salah satu hal yang buku The Purpose Driven Life bilang adalah melakukan hal yang gua suka dan mampu lakukan. Alasannya sederhana: karena nggak mungkin Allah menempatkan kemampuan tersebut tanpa alasan; pasti Dia melakukan hal tersebut supaya kita gunakan, baik untuk bertahan hidup, menghibur diri, atau membantu orang lain.

Salah satu hal yang (entah dari mana) gua suka adalah menulis. Sejak kecil gua senang mencoret-coret buku, baik itu bikin tulisan-tulisan gak jelas atau, well … ya asal corat-coret aja. Beberapa tahun terakhir coretan tersebut jadi sedikit lebih rapi, di mana gua menyediakan banyak buku tulis untuk menulis jurnal harian atau menuangkan pendapat setelah nonton pertandingan olahraga.

Gua sadar sih tulisan gua nggak bagus-bagus amat. Gua juga sadar kalau seringkali tulisan gua banyak cacatnya. Tapi entah kenapa gua senang menulis. Mulai dari menulis di blog (macam Medium ini), berceloteh di Twitter, hingga membuat berbagai tulisan tentang hal lain yang gua cintai: sepakbola.

Beberapa waktu lalu gua dapat pertanyaan: “Pet, kalau nulis biasanya gimana sih? Apa ada tahap-tahapnya gitu atau gimana?

Gua bingung menjawabnya. Hahaha.

Kalau untuk menulis di media sih memang ada strukturnya, ya. Di manapun tempat gua menulis (baik media lokal tempat bekerja sekarang maupun media internasional tempat gua freelance dulu) pasti mereka menyediakan struktur yang harus gua ikuti. Tulisan-tulisan gua hanya mengikuti struktur tersebut, lalu sedikit mengembangkannya sesuai dengan apa yang gua anggap menarik.

Tapi kalau menulis di blog? Hmm, gua benar-benar bingung. Kayak tulisan ini misalnya, gua nggak pake struktur apa-apa. Gua memulainya karena bingung mau nulis apa, eh tiba-tiba sekarang udah mau 600 kata aja. Tapi, di beberapa kesempatan lain gua sebenarnya punya struktur sih meskipun sangat sederhana. Kayak misal gua bikin poin-poin apa aja yang mau ditulis, dan sedikit arah pengembangannya. Cuma begitu doang tapi tiba-tiba bisa hampir 1000 kata. Padahal seringnya gua cuma mengincar di kisaran 500–600 kata.

Teralokasikannya waktu gua dalam kegiatan tulis-menulis ini membuat hidup gua bisa dibilang sedikit lebih baik. Gua jadi bisa punya banyak kenalan karena menulis. Gua sekarang juga punya pekerjaan karena kegiatan menulis. Di sisi lain, menulis pun sekarang jadi salah satu sarana bagi gua untuk menyenangkan dan menenangkan diri. Selain itu, gua jadi makin bisa ngurang-ngurangin untuk membandingkan diri dengan orang lain.

Meskipun kadang masih juga, sih. Hehe.

I’m Petrick Sinuraya, a 24-year-old football writer based in Indonesia. Currently, I’m working for one of Indonesia’s biggest football media outlets.

For inquiries, please contact me at petricksinuraya@gmail.com.

--

--